Aktualisasi Dua Kalimat Syahadat

admin

Oleh Ustadz Alim Mahdi

Untuk menyegarkan kembali pemahaman dan komitmen kita tentang Syahadat dari seluruh dimensi isi dan tuntutan dua kalimat syahadat, seperti yang terjadi di masa Rasulullah saw.

Dua kalimat syahadat secara Bahasa memiliki ma’na yang cukup penting dalam setiap dimensinya.

Dengan memahami dimensi – dimensi ini seseorang tidak sekedar mengucapkannya, melainkan harus disertai Komitmen, berupa Keterikatan dan Keterlibatan dalam setiap aspek hidupnya terhadap dua kalimah suci ini.

 

Pertama: Al – I’laan / Al – Ikrar

Adalah announcement atau pengumuman, pemberitahuan dan maklumat. (Ali Imran [3] :64).

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Makna ini memiliki dimensi bahwa seorang muslim yang telah bersyahadat telah mengumumkan dan mendeklarasikan dirinya sebagai seorang muslim yang siap terikat, dengan seluruh kehendak Islam.

 

Kedua: Al – Qosam / AL – Hilf.

Adalah Oath, swear, atau sumpah (QS. Al Baqarah [2]: 63)

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa”.

Ma’na ini berdimensi bahwa seorang yang besyahadat, berarti telah bersumpah setia terhadap apa yang diyakininya. Sehingga dengan demikian ia dituntut Komitmen dengan segala aspek yang disumpahinya dengan penuh kesadaran.

 

Ketiga: Al’Ahdu atau Al’Wa’du

Adalah Promise, agreement, janji atau perjanjian. (QS. Al Baqarah [2]: 27).

لَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

Ma’na ini memuat dimensi lebih terikat lagi, yaitu adanya suatu Kontrak perjanjian, dan kesepakatan terhadap apa yang diinginkan dan dikehendaki oleh yang disumpah, dalam hal ini adalah Alloh dan Rasul-Nya.

 

AYAH BUNDA SAHABAT FOSS YANG DIMULIAKAN ALLAH

Dari ketiga ma’na dan dimensinya, inilah yang disebut keimanan (Al – Iimaan). Seseorang dituntut melibatkan tiga aspek secara integral dan harus dilakukan secara simultan atau Bersama sekaligus, yaitu:

1. Aspek Lisan (Iqroor bil Lisaan).
Artinya pengakuan dengan lisan sebagai aspek terluar dan dengan pengakuan ini seseorang dapat dibedakan apakah ia seorang muslim atau bukan.

2. Aspek Hati Nurani (Tashdiiqu bil Qolbi).
Membenarkan dengan sejujurnya dengan hati. Aspek ini merupakan bagian terdalam dan paling mendasar dalam diri seseorang, yang berperan menjadi pijakan dan pondasi bagi setiap keterikatan hidup dan seluruh aktifitasnya.

3. Aspek Fisik atau Anggota Tubuh (‘Amalu bil Arkaan).
Artinya berbuat dan bertindak dengan seluruh anggota tubuh. Aspek ini merupakan bukti dan sikap keterlibatan seseorang dan paling ber-Resiko.

Karena keimanannya seseorang itu, harus dapat dibuktikan dengan anggota tubuhnya berupa Amal, sebagai Bukti komitmen terhadap apa yang diyakininya.

 

AYAH BUNDA SAHABAT FOSS YANG DIMULIAKAN ALLAH

Semua aspek ini memiliki tuntutan dan keniscayaan sebagai konsekwensi logis, dari perjanjian dan keterikatan terhadap sesuatu, sebagaimana berlaku dalam perjanjian – perjanjian atau transaksi lain.

Oleh sebab itu, sebagai langkah perwujudan dari konsekwensi ini adalah sikap KONSISTEN dengan segala tuntutan dimensional yang terkandung dalam klausul – klausul atau pasal – pasal perjanjian tersebut.

Dalam Islam dan terminology Qur’aninya dinamakan Al-Istiqomah. (QS. Fushilat [41]: 30).

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”

 

 

Tinggalkan komentar